Rabu, 13 Mei 2009

asal mula nama BOGOR


Asal-usul Nama Bogor
Home Asal-usul

TAH di dinya, ku andika adegkeun eta dayeuhlaju ngaranan Bogorsabab bogor teh hartina tunggul kawung

(Di tempat itu, dirikanlah olehmu sebuah kotalalu beri nama Bogorsebab bogor itu artinya pokok enau)
Ari tunggul kawungemang ge euweuh hartinaeuweuh soteh ceuk nu teu ngarti

(Pokok enau itumemang tak ada artinyaterutama,bagi mereka yang tidak paham)
Ari sababna, ngaran mudu Bogorsabab bogor mah dijieun suluh teu daek hurungteu melepes tapi ngelunhaseupna teu mahi dipake muput

(Sebabnya harus bernama Bogor?sebab bogor itu dibuat kayu bakar tak mau menyalatapitidak padam, terus membaraasapnya tak cukup untuk "muput")
Tapi amun dijieun tetenggersanggup nungkulan windukuat milangan mangsa

(Tapi kalau dijadikan penyangga rumahmampu melampaui waktusanggup melintasi zaman)
Amun kadupakmatak borok nu ngadupaknamoalgeuwat cageur tah inyana

(Kalau tersenggolbisa membuat koreng yang menyenggolnyamembuat koreng yang lama sembuhnya)
Amun katajong?mantak bohak nu najongnamoal geuwat waras tah cokorna

(Kalau tertendang?bisa melukai yang mendangnyaitu kaki akan lama sembuhnya)
Tapi, amun dijieun kekesed?sing nyarahoisukan jaga pagetobakal harudang pating kodongkangnu ngawarah si calutak

(Tapi, kalau dibuat keset?Semuanya harus tahubesok atau lusabakal bangkit berkeliaranmenasehati yang tidak sopan)
Tah kitu!ngaranan ku andika eta dayeuhDayeuh Bogor!
[Pantun Pa Cilong, "Ngadegna Dayeuh Pajajaran"]
PANTUN di atas menjadi dasar yang paling kuat tentang kenapa nama kota itu dinamakan Bogor. Seperti diketahui, sampai saat ini ada empat pendapat tentang asal nama Bogor:
1. Berasal dari salah ucap orang Sunda untuk Buitenzorg yaitu nama resmi Bogor pada masa penjajahan Belanda.
2. Berasal dari baghar atau baqar yang berarti sapi, karena di dalam Kebun Raya ada sebuah patung sapi.
3. Berasal dari kata bokor yaitu sejenis bakul logam tanpa alasan yang jelas.
4. Asli bernama Bogor yang artinya tunggul kawung (enau atau aren).

Pendapat bahwa Bogor berasal dari buitenzorg adalah dugaan intelek yang mengira lidah orang Sunda sedemikian kakunya dengan mengambil perumpamaan melesetnya Batavia menjadi Betawi. Tetapi, bila kita perhatikan bagaimana orang Sunda mengucapkan sikenhes untuk ziekenhuis (rumah sakit) atau bes untuk buis (pipa) atau boreh untuk boreg (jaminan), maka berdasarkan gejala bahasa tersebut, seharusnya orang Sunda melafalkan buitenzorg menjadi betensoreh. Jadi, dugaan buitenzorg menjadi Bogor terlalu dikira-kira.

Pendapat kedua (baghar atau baqar) berdasarkan kenyataan adanya pengaruh bahasa Arab di daerah sekitar Pekojan. Orang Sunda akrab dengan bahasa Arab lewat agama Islam, akan tetapi belum pernah ada bunyi ba dari bahasa Arab menjadi bo. Selain itu, dugaannya mengandung kelemahan dari segi urutan waktu. Kata Bogor telah ada sebelum Kebun Raya dibuat, sedangkan arca sapi itu berasal dari kolam kuno Kota Baru yang dipindahkan ke dalam Kebun Raya oleh Dr Frideriech dalam pertengahan abad 19.

Pendapat ketiga (asal kata bokor) juga mengandung kelemahan karena bokor itu sendiri adalah kata Sunda asli yang keasliannya cukup terjamin. Meskipun demikian, perubahan bunyi K menjadi G tanpa menimbulkan perubahan arti dapat ditemui pada kata kumasep dan angkeuhan yang sering diucapkan menjadi gumasep (merasa cakep/centil) dan anggeuhan (tempat bersandar atau bernaung). Jadi, bisa saja Bogor memang berasal dari bokor. Tetapi, tak ada seorang pun yang biasa mengartikan Bogor sama dengan bokor.

Pendapat keempat kita temukan dalam pantun Bogor yang sudah disebutkan di awal tulisan. Dalam lakon itu dikemukakan bahwa kata bogor berarti tunggul kawung. Keadaan yang sama dapat ditemui pada nama tempat Tunggilis yang terletak di tepi jalan antara Cileungsi dan Jonggol. Kata tunggilis berarti tunggul atau pokok pinang yang secara kiasan diartikan menyendiri atau hidup sebatang kara.

Di Jawa Barat banyak tempat bernama Bogor, seperti yang bisa ditemukan di Sumedang dan Garut. Demikian pula di Jawa Tengah, sebagaimana dicatat Prof Veth dalam buku Java. Dengan demikian memang agak sulit menerima teori buitenzorg, baghar dan bokor.
Bogor selain berarti tunggul enau, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu (di daerah Bekasi). Dalam bahasa Jawa Bogor berati pohon enau dan kata kerja dibogor berarti disadap. Dalam bahasa Jawa Kuno, pabogoran berarti kebun enau. Dalam bahasa Sunda umum, menurut Coolsma, Bogor berarti "droogetapte kawoeng"(pohon enau yang telah habis disadap) atau bladerlooze en taklooze boom (pohon yang tak berdaun dan tak bercabang). Jadi, sama dengan pengertian kata pugur atau pogor.
Akan tetapi dalam bahasa Sunda muguran dengan mogoran berbeda arti. Yang pertama dikenakan kepada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna yang kurang susila. Pendapat desas-desus bahwa Bogor itu berarti pamogoran bisa dianggap terlalu iseng.
Nama Bogor dapat ditemui pada sebuah dokumen tertanggal 7 April 1752. Dalam dokumen tersebut tercantum nama Ngabei Raksacandra sebagai hoofd van de negorij Bogor (kepala kampung Bogor). Dalam tahun tersebut ibukota Kabupaten Bogor masih berkedudukan di Tanah Baru. Dua tahun kemudian, Bupati Demang Wiranata mengajukan permohonan kepada Gubernur Jacob Mossel agar diizinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati di dekat Buitenzorg. Kelak karena di depan rumah Bupati Bogor tersebut terdapat sebuah kolam besar (empang), maka nama Sukahati diganti menjadi Empang.
Pada tahun 1752 tersebut, di Kota Bogor belum ada orang asing, kecuali Belanda. Kebun Raya sendiri baru didirikan tahun 1817 sehingga teori "arca sapi" tidak dapat diterima sebagai asal-usul nama Bogor. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya. Ada di lokasi tanaman kaktus sekarang. Adapun pasar yang didirikan di kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor. Maka, tak pelak, papan nama Pasar Baru Bogor yang ada sekarang sebenarnya agak mengganggu rangkaian historis ini. - cikalbogor.20m.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar